MUTU SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI
Penulis;
Prof. Dr. Sirilius Seren, SE., MS
Jumlah halaman; 153
Ukuran Buku: A5 (14,8×21)
Versi Cetak: Tersedia
Versi E-Book: Tersedia
Berat; 0 Kg
Harga; Rp; 145.000
Sumber daya manusia (human resources) atau modal manusia (human capital) merupakan titik sentral pembangunan. Perannya tidak hanya sebagai pelaksana dan perencana melainkan sekaligus sebagai sasaran/obyek pembangunan. Karena itu amatlah tepat jika program untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia yang sering disebut sebagai investasi dalam modal manusia merupakan salah satu sasaran dalam pembangunan nasional.
Mutu modal manusia yang berkualitas tinggi dan menguasai teknologi dapat menghasilkan nilai tambah (value added) dan mendorong pertumbuhan ekonomi (economic growth) (Backer, 1964), Adam Smith dan Alfred Marshall (dalam Kort, at al 2002:539). Dalam studinya di Amerika Serikat, Denison (1967) menemukan bahwa 23% dari pertumbuhan ekonomi Amerika dalam periode tahun 1909-1929, disumbangkan oleh meningkatnya rata-rata tingkat pendidikan tenaga kerja. Kontibusi tersebut kemudian meningkat menjadi 42% dalam periode tahun 1929-1957.
Studi serupa juga dilakukan oleh Schultz, (dalam bukunya: Capital Formation by Education-1960). Ia membandingkan tingkat balik antara modal manusia (rate of return to human capital) dengan tingkat balik modal fisik (rate of return to physical capital) terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari perbandingan tersebut, Schultz (1960) menemukan bahwa proporsi yang cukup tinggi dari pertumbuhan output di USA disebabkan oleh pendidikan sebagai salah satu bentuk investasi pengembangan sumber daya manusia.
Suryadi (1997) dengan mengolah data survei angkatan kerja nasional (SAKERNAS, 1995) mendapatkan hasil bahwa di daerah perkotaan, mereka yang tamat perguruan tinggi (Akademi dan Universitas) rata-rata memiliki penghasilan di atas tigajuta rupiah melebihi daripada penghasilan yang diterima oleh tenaga kerja yang berpendidikan SLTA kebawah, rata-rata satujuta rupiah. Perbedaan ini sebagai indikasi bahwa tingkat produktivitas untuk tamatan perguruan tinggi lebih tinggi daripada produktivitas tenaga kerja dengan pendidikan SLTA kebawah. Disparitas penghasilan ini telah dan akan berakibat positif terhadap kecenderungan mengkonsumsi antara lain terhadap bidang kesehatan, konsumsi, dan pendidikan yang berkualitas. Angka harapan hidup (AHH) bagi kelompok ini menjadi lebih tinggi daripada kelompok yang berpendapatan rendah (Psacharopoulos, 1985).




Reviews
There are no reviews yet.