Model Perkuatan Lereng Dengan Model Blok X
Penulis;
Dr. Ir. Enos Karapa, ST.MT
Jumlah halaman: 155
Ukuran Buku: A5 (14,8×21)
Versi cetak; Tersedia
Versi E-Book: Tersedia
Harga; Rp; 134.000
Bencana tanah longsor adalah bahaya yang meluas yang terjadi di banyak daerah di dunia dan menyebabkan kerusakan yang besar pada masyarakat (Rossi et al., 2019). Setiap tahun bencana ini menyebabkan lebih dari 100.000 kematian dan cedera dan kerusakan lebih dari satu miliar USD. Di beberapa negara, kerugian ekonomi dan korban dari tanah longsor diremehkan. Bencana Tanah longsor menghasilkan kerugian yang lebih besar daripada bencana alam lainnya, termasuk gempa bumi, banjir, dan badai angin (Akgun, 2012).
Bencana tanah longsor juga telah terjadi di beberapa wilayah Indonesia dan menimbulkan dampak yang merugikan di berbagai bidang, seperti lingkungan, sosial, dan ekonomi. Bencana tanah longsor pada beberapa kejadian dapat terjadi disebabkan oleh pemicu yang sama (mis., badai hujan, periode curah hujan yang berkepanjangan (Salvati et al., 2018)
Longsoran dapat terjadi diawali dengan proses erosi pada permukaan suatu lereng. Walaupun erosi merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi/ pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan (Zhang and McSaveney, 2018). Kegagalan lereng dapat disebabkan oleh penurunan tanah terutama yang sangat rentan terhadap penurunan seperti tanah lempung (Harianto et al., 2020).
Masalah stabilitas lereng menarik perhatian utama dari para peneliti, dan akibatnya, beberapa teknik dan metode untuk evaluasi stabilitas lereng telah diusulkan. Upaya penanggulangan longsoran di berbagai wilayah telah banyak dilakukan, diantaranya adalah dengan penanganan menggunakan metode vegetatif dan pemotongan lereng, namun upaya penanggulangan yang telah dilakukan ini belum mampu mengurangi potensi bahaya yang terjadi. Selain perkuatan dengan dinding penahan tanah, banyak perkuatan yang dilakukan dengan menggunakan geosintetik berupa geotekstil, anchor, rock sheds, namun penggunaan metode ini pada umumnya dilakukan dalam skala yang besar dan membutuhkan biaya yang besar (Zornberg, Sitar and Mitchell, 2000). Penanggulangan kerusakan jalan serta lereng di daerah terpencil masih sering dilakukan dengan perkerasan menggunakan material tanah, hal ini disebabkan karena biaya yang mahal untuk mendatangkan material yang layak (Muhiddin and Tangkeallo, 2020).




Reviews
There are no reviews yet.