DARI PENGAJIAN MENUJU KETANGGUHAN: “Membangun Kesadaran Beragama Melalui Program Keagamaan Majelis Taklim”

+ Free Shipping
Category:

DARI PENGAJIAN MENUJU KETANGGUHAN:

“Membangun Kesadaran Beragama Melalui Program Keagamaan Majelis Taklim”

Penulis:

Muhammad Yunus, M.Sos

Juamlah halaman: 292

Ukuran Buku: A5 (14,8×21)

Versi Cetak: Tersedia

Versi E-Book: tersedia

Berat; 0 Kg

harga; Rp; 145.000

pendidikan Islam tertua dan paling mengakar dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia. Menurut Hasbullah dalam Amanah (2019), majelis taklim adalah sebuah tempat untuk melakukan pengajian Islam. Pada tahun 1980, musyawarah se-DKI Jakarta secara resmi menetapkan majelis taklim sebagai lembaga pendidikan non-formal Islam yang memiliki kurikulum sendiri, dilaksanakan secara berkala dan teratur, serta memiliki jamaah yang relatif besar. Tujuan utamanya adalah membangun dan menumbuhkan hubungan yang baik antara manusia dengan Allah SWT, antara sesama manusia, dan dengan lingkungan sekitar (Maisaroh et al., 2020).

Sebagai lembaga pendidikan, majelis taklim seharusnya memiliki program yang terencana dan teratur agar pengajian yang dilakukan dapat berjalan secara efektif. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit majelis taklim yang beroperasi tanpa program keagamaan yang jelas dan terstruktur. Fenomena inilah yang peneliti sebut sebagai pengajian tanpa program sebuah kondisi di mana kegiatan pengajian diselenggarakan secara rutin namun tidak didukung oleh perencanaan, tema, dan tujuan yang jelas.

Program keagamaan, sebagaimana dijelaskan oleh Prawidya dan Shokliburidak dalam Prwidya Lestari (2022), merupakan program yang bertujuan membiasakan berakhlak mulia kepada orang lain, masyarakat, dan negara. Program ini menjadi fondasi penting karena manusia memiliki kecerdasan dan akhlak yang membedakannya dari makhluk lain, sehingga ia dapat menjadi teladan yang baik. Lebih jauh, Yazid et al. (2023) dan Suswandy & Thursina (2023) dalam penelitian mereka secara tegas menyatakan bahwa program keagamaan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam membangun kesadaran keagamaan, membentuk karakter, nilai, dan norma sosial dalam masyarakat.

Ibrahim (2020) dan Aulia et al. (2022) menemukan bahwa kegiatan majelis taklim yang semakin berkembang justru semakin banyak memiliki program keagamaan yang terstruktur. Ini karena banyak anggota majelis taklim yang haus akan pendidikan keagamaan dan penanaman nilai spiritual yang memadai. Namun, realitas ini belum merata. Masih banyak majelis taklim yang bergerak secara spontan, mengandalkan sepenuhnya materi yang dibawa oleh ustadz pada hari itu, tanpa adanya panduan, tema, atau rencana yang telah disiapkan sebelumnya.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “DARI PENGAJIAN MENUJU KETANGGUHAN: “Membangun Kesadaran Beragama Melalui Program Keagamaan Majelis Taklim””

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shopping Cart
  • Your cart is empty.