Merawat Ingatan Menulis Kearifan Lokal Pasaman Barat
Penulis:
Harlita, S.P, dkk
Jumlah halaman: 315
Ukuran Buku: A5 (14,8×21)
Versi Cetak: tersedia
Versi E-book: Tersedia
Berat; 0 Kg
Harga; Rp; 215.000
Festival tahunan ini selalu diadakan menjelang memasuki bulan ramadhan, festival ini sudah menjadi tradisi di setiap sekolah yang ada di Pasaman Barat yang sudah menjadi kurikulum pelajaran disekolah. Tetapi ada yang berbeda dengan acara maapam yang ada di sekitar rumahku atau ditengah masyarakat, disekolah para siswa diminta untuk memakai pakaian adat Minangkabau yaitu untuk para perempuan menggunakan baju kuruang basiba dan untuk para laki-laki menggunakan baju taluak balango. Selain melestarikan tradisi maapam disekolah kami juga melestarikan pakaian adat Minangkabau kepada siswa agar tetap diwariskan.
Pagi itu, matahari baru saja muncul diufuk timur, menyinari halaman sekolah. Udara terasa sangat sejuk dan bercampur dengan semangat para siswa yang sedang mempersiapkan peralatannya. Acara ini dilaksanakan dengan cara melestarikan dan memperlombakan disekolah. Aku sudah berada disekolah dengan pakaian kuruang basiba ku. Aku menarik napas dalam dalam, mencoba menenangkan diri. Hari ini aku menjadi salah satu panitia pada acara ini. Di sekelilingku,panitia lain berlari kesana kemari. Ada yang mengatur kursi untuk para juri, memasang dekorasi, hingga ada yang memastikan sound system berjalan dengan baik. “Semua sudah siap?” suara dari ketua panitia kami.
Aku hanya mengangguk kecil, karena merasa gugup. lapangan yang tadinya sepi, sekarang sudah ramai, semerbak bau asap menyitari lapangan sekolah. Masing-masing kelas sudah berada ditempat yang sudah panitia tentukan. Aroma tradisional khas dari apam mulai tercium dan dengan suara musik yang meramaikan. Di setiap kelas sudah ada berbagai bahan yang tertata rapi yaitu tepung beras, santan, gula merah dan daun pisang. Acara lomba pun dimulai, semua peserta mendengarkan semua peraturan perlombaan dari para juri.
Lomba maapam bukan sekedar memasak. Tetapi, ini adalah bagian dari menjaga tradisi. Maapam adalah kue tradisional khas Minangkabau, punya makna kebersamaan dan kesederhanaan. Ketika lomba dimulai, suasana langsung berubah menjadi lebih serius, api dinyalakan dengan menggunakan pelepah pisang (suluah), wajan kecil mulai dipanaskan dan tangan tangan para peserta bergerak dengan cepat




Reviews
There are no reviews yet.