FILSAFAT ILMU-ILMU KEISLAMAN

+ Free Shipping
Category:

FILSAFAT ILMU-ILMU KEISLAMAN

Penulis;

MULYADI

JUSMIWARTI BJ

MARLINI T

DAFRIL

 APRIS

ZUL AKHYAR

JOHARDI

IHSAN

FIRDAUS

MARHADI EFENDI

MUHAMMAD JAHAR BULEK

SYAFRIANTO

MUHAMMAD RIDWAN

ARI PRIMA

MURLIS MUHAMMAD

JONI DARMA FITRA

HENDRI

NOFIK AFRIKO

Jumlah halaman; 325

Ukuran Buku: A5 (14,8×21)

Versi Cetak: Tersedia

versi E-book: Tersedia

Berat; 0 Kg

Harga; Rp; 255.000

Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi’i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jabatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya. Ia dianggap sebagai Mujaddid abad ke-5, seorang pembaru iman. Karya-karyanya sangat diakui oleh orang-orang sezamannya sehingga al-Ghazali dianugerahi gelar kehormatan “Bukti Islam” atau Hujjat al-Islam (Zaini, Ahmad. 2016.. “Pemikiran Tasawuf Imam Al-Ghazali” Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf)

Menurut Al-Ghazali tradisi spiritual Islam telah hampir mati dan bahwa ilmu-ilmu spiritual yang diajarkan oleh generasi pertama umat Islam telah dilupakan. Keyakinan ini mendorongnya untuk menulis magnum opusnya yang berjudul Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama). Di antara karya-karyanya yang lain, Tahafut al-Falasifah (Incoherence of the Philosophers/ Inkohorensi Para Filsuf) adalah tengara dalam sejarah filsafat, karena memajukan kritik terhadap sains Aristotelian yang dikembangkan kemudian di Eropa abad ke-14. (Al-Ghazali: A Study in Islamic Philosophy and Theology. 1952)

Al-Ghazali menempuh pendidikan dasar di kota Tus. Ia mulai belajar ilmu agama tingkat dasar dari seorang guru bernama Ahmad bin Muhammad Razkafi. Pada tingkat dasar, dia mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan dia menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, dia mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih,filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, dia melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, dia telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiyah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian dia dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, dia menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah. (Zaini, Ahmad .2016. “Pemikiran Tasawuf Imam Al-Ghazali” Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf).

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “FILSAFAT ILMU-ILMU KEISLAMAN”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shopping Cart
  • Your cart is empty.